Jumat, 30 Maret 2012

imam asyari


SEPUTAR PEMIKIRAN IMAM ASY’ARI
Dalam Tela’ah kitab
“Al Ibanah ‘an Ushul al-Diyanah”,
PENDAHULUAN (BIOGRAFI)
Nama lengkap Imam Al-Asyari adalah Abu Hasan Ali bin Ismail  bin Ishak bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa al-Asy’ari[1]. Ini berarti ia adalah salah satu keturunan sahabat Nabi SAW, yaitu Abu Musa Al-Asy’ari, seorang tokoh tahkim dalam peristiwa perang Shiffin dari fihak sayidina Ali ra. Imam Asy’ari lahir di Basrah pada tahun 260 H/875 M. Ketika berusia 40 tahun, ia pindah ke Baghdad dan wafat di sana pada tahun 324 H/935 M.[2]
Ibn Asakir menyatakan, ayah Imam Asy’ari adalah seorang yang berfaham Ahlusunnah wal jama’ah dan ahli hadits, Ia wafat ketika Al-Asy’ari masih kecil. Sebelum wafat, ia berwasiat kepada sahabatnya, Zakariya bin Yahya As-Saji agar mendidik Al-Asy’ari.
Ibu Al-Asy’ari kemudian menikah lagi dengan Abu Ali Al-Juba’i, seorang tokoh Muktazilah, kemudian Al-Asyari mendapat didikan dari ayah tirinya. Karena didikan ayah tirinya, Al-Asy’ari kemudian menjadi tokoh Muktazilah. Ia sering menggantikan ayahnya dalam perdebatan menentang lawan-lawan Muktazilah.
Imam Asy’ari menjadi penganut muktazilah sampai usia 40 tahun. Setelah itu, tiba-tiba ia mengumumkan di hadapan jamaah di masjid Bashrah bahwa ia telah meninggalkan faham Muktazilah dan menunjukkan keburukan-keburukannya. Ia merasa tidak cocok lagi dengan ajaran Muktazilah, hingga  pada akhirnya ia lebih condong kepada ajaran Ahli hadits dan ahli Fiqih.
Beberapa waktu lamanya, ia merenungkan dan mempertimbangkan antara ajaran Muktazilah dengan ajaran ahli Hadits dan Ahli Fiqih. Imam Asy’ari melakukan pengasingan (khalwat) selama 15 hari untuk memikirkan hal tersebut. Dan puncak dari pengasingan tersebut, ia menerima rukyat (mimpi) bertemu dengan Rasulullah SAW untuk diminta kembali kepada ajaran yang dibawa beliau. Mimpinya itu terjadi sampai tiga kali, yakni pada malam ke-10, ke-20, dan ke-30 bulan Ramadhan.[3] 

Diceritakan bahwasanya Imam Asy’ari berkata:
ومما حُكي عنه أنه قال : وقع في صدري في بعض اللّيالى   شيئ مما كنت فيه من العقائد فقمتُ فصلّيتُ ركعتين, وسألتُ الله أن يهدينى  الصّراط المستقيم, ونمتُ, فرأيتُ رسولَ الله صلىّ الله عليه وسلّم في المنام , فشكوتُ اليه بعضَ ما بي من الأمر فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( عليك بسنتي ) فانتبهتُ, فعارضتُ مسائل الكلام بما وجدتُ من القرآنوالأخبار فأثبته ونبذت ماسواه ورائيظِهرِ ياّ 

Telah menimpa dadaku di sebagian tidurku sesuatu yang menggelisahkan yang masih berkaitan dengan keyakinan-keyakinanku. Maka aku bangun dan shalat dua rakaat. Selanjutnya kumintakan kepada Allah Ta’ala kiranya Ia berkenan menunjuk aku ke jalan yang lurus. Kemudian aku tidur lagi, maka aku lihat Rasulullah SAW hadir dalam mimpiku. Maka kuadukan kepadanya sebagian persoalan yang ada padaku. Maka Rasulullah berkata kepadaku: Berpegang teguhlah kepada sunnahku. Kemudian aku terbangun. Setelah itu aku bandingkan masalah-masalah ilmu Kalam dengan apa yang aku dapati di dalam Al-Qur’an dan Akhbar (hadits-hadits). Maka aku menetapkannya serta aku buang apa-apa yang selainnya di balik punggungku.” [4]
            Selain sebab diatas, ada faktor lain yang menyebabkan Imam Al-Asy’ari keluar dari Muktazilah, yakni masalah perdebatannya dengan guru yang sekaligus juga ayah tirinya yaitu Al-Jubai seputar al-shalah wa al-ashlah (sebuah pandangan Muktazilah mengenai Tuhan wajib berbuat baik dan yang terbaik untuk manusia).
Kepada Al-Juba’i, Imam Al-Asy’ari menanyakan tentang kedudukan orang mukmin, kafir, dan anak bayi setelah meninggal dunia.
Al-Juba’i        : Yang mukmin masuk surga, yang kafir masuk neraka, dan bayi bebas dari bahaya.
Al-Asy’ari       :  Bagaimana jika bayi itu ingin masuk surga?
Al-Juba’i        :  Tidak. Sebab yang mukmin masuk surga karena ketaatannya kepada Tuhan. Dan bayi belum melakukan ketaatan.
Al-Asy’ari       :  Bagaimana jika bayi itu berkata kepada Tuhan, “Itu bukan salahku, seandainya Engkau memberiku hidup panjang, aku akan melakukan ketaatan kepada-Mu.”
Al-Juba’i        :  Tuhan akan menjawab, “Aku tahu, jika Aku panjangkan umurmu, kamu akan berbuat dosa sehingga kamu masuk neraka. Maka untuk kepentinganmu, Aku ambil nyawamu sebelum kamu sampai umur yang terkena beban tanggung jawab.”
Al-Asy’ari       :   Bagaimana jika yang kafir itu protes, “Engkau tahu masa depanku sebagaimana Engkau tahumasa depan bayi itu, tetapi mengapa tidak Engkau jaga kepentinganku?
            Sampai di sini Al-Juba’i tidak bisa menjawab.[5] Ketidak mampuan Al Juba’i dalam menjawab pertanyaan, semakin membuat  Imam Asy’ari ragu-ragu terhadap doktrin Muktazilah.
Dengan kejadian ini, Ibnu ‘Imad berkata :“ Dalam perdebatan ini menunjukan bahwasanya Allah ta’ala memilih orang yang Ia kehendaki dengan rahmat-Nya dan memilih lainnya dengan Adzab-Nya”.[6]
Di samping itu Imam As’ari banyak menemukan pandangan-pandangan Muktazilah yang tidak lazim, antara lain mereka tidak mengakui rukyatullah, mengingkari adanya syafaat Nabi SAW, mengingkari adzab kubur.
Juga  terhadap Al-Qur’an dan Al-Hadits yang telah menjadi kurban dari pemikiran orang-orang Muktazilah yang dianggap semakin jauh menyimpang dari kebenaran dan membahayakan umat. Hal ini disebabkan karena Muktazilah terlalu menonjolkan akal fikirannya.  Di sisi lain, juga ada ahli Hadits Antropomorphist (golongan tekstualis) yang terlalu memegangi makna lahir dari hadits-hadits yang nyaris menyeret kepada kelemahan, dan kebekuan Islam. Karena itu kemudian Imam Asy’ari mencoba mengambil jalan tengah di antara keduanya, yang ternyata pendapatnya dapat diterima oleh mayoritas umat Islam.
Sebagai seorang yang pernah berfaham Mukatazilah, Imam Al-Asy’ari tidak menjauhkan diri dari pemakaian akal dalam mengungkapkan argumen-argumenya. Ia juga tidak sependapat dengan sekelompok umat Islam yang mengatakan bahwa penggunaan akal dalam pembahasan agama tidak pernah disinggung oleh Nabi SAW. Sebab menurutnya, sepeninggal Nabi SAW para sahabat juga seringkali menggunakan akal sebagai salah satu pijakan saat membahas masalah-masalah baru.  Dan dengan melakukan itu para sahabat tidak lantas dinyatakan sebagai ahli bid’ah.
Walaupun demikian Imam Al-Asy’ari  sangat menentang seseorang yang berlebihan dalam menggunakan akal, sebagaimana orang Muktazilah yang kurang menghargai nash-nash agama yang tertulis di dalam Al-Qur’ an dan hadits-hadits Nabi SAW.
Imam Asy’ari meninggal tahun 324 H. Sepeninggalnya, ajaran-ajaran Imam Asy’ari sempat mengalami hambatan. Hal ini disebabkan adanya sebagian pengikut Al-Asy’ari yang cenderung liberal (terlalu berlebihan) dalam menggunakan akal dan rasio, yang berdampak munculnya  pihak-pihak yang menentang, yaitu dari kalangan Hanabilah ( pengikut madzhab Hanbali). Namun demikian, pengikut Imam Asy’ari terus meningkat, khususunya dari kalangan masyarakat awam.
Baru setelah Nidhomul Muluk (w. 485 H), seorang perdana menteri dari Bani Saljuk mendirikan madrasah Nidhomiyah di Naisabur dan di Baghdad, seorang guru besar dari madrasah An-Nidhomiyah yaitu Imam Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H) muncul untuk mengembangkan teologi Al-Asy’ari, Pada masa inilah ajaran al-Asy’ari berkembang pesat, yang kemudian menjadi ajaran mayoritas dari kalangan umat Islam. Setelah Imam Ghazali, muncul tokoh-tokoh yang meneruskan dan mengembangkan ajaran Al-Asy’ari seperti Al-Sahrastani, Fahruddin Al-Razi, Al-Sanusi, Al-Iji, dan lain-lain.
Sebagai ulama besar yang menjadi pembela faham Ahlussunnah wal jama’ah, riwayat tentang Imam Al-Asyari bisa ditemukan diberbagai kitab, seperti :
1.    Tabyinul  Kadzib Al-Muftary fi ma Yunsabu ila Abi Hasan Al-Asy’ari, karya Abu Al-Qosim Ali Bil Al-Hasan bin Hibatullah bin Asyakir Al-Dimasyqi.
2.    Tarikh Baghdad, karya Al-Khatib Al-Baghdadi
3.     Wafayatul A’yan, karya Ibnu Khulkan.
4.     Tarikh Al- Islam, karya Ad-Dzahabi.
5.    Al-Bidayah Wa Al-Nihayah, karya Ibnu Katsir.
6.    Thabaqathus Syafi’iyah Al-Kubra,  karya Tajuddin As-Subki, dan lain-lain.

KOMENTAR ULAMA TERHADAP IMAM ASY’ARI
            Seorang tokoh besar dari kalangan madzhab Syafi’i yang bernama Imam Tajuddin As-subki di dalam kitabnya ‘Thabaqah Al-Syafi’iyyah Al-Kubra’ menyatakan: “Abu Hasan Al-Asy’ari adalah sebesar-besar tokoh ahlusunnah setelah Imam Ahmad bin Hanbal. Aqidahnya dan aqidah Imam Ahmad rahimahullah adalah satu. Tidak ada keraguan dan kebimbangan dalam hal ini. Hal itu telah dijelaskan oleh Al-Asy’ari dam karangan-karangannya. Dan ia sebutkan di lain kitab dengan perkataannya: “Sesungguhnya aqidahku adalah aqidah Imam Al-Mubajal (Imam Ahmad bin Hanbal).”
            Dari kalangan madzhab Hanbali, Ibnu ‘Imad dalam kitabnya ‘Al-Syadzarat’, juz 2, halaman 303, menyatakan:  “Dengan demikian Abu Hasan Al-Asy’ari telah nemutihkan wajah ahlusunnah dan menghitamkan bendera Muktazilah dan Jahamiyah.”
            Selanjutnya Ibnu Farihun dalam kitabnya ‘Al-Dibaj’, mengungkapkan: Abu Hasan Al-Asy’ari dipuji oleh Abu Muhammad bin Abu Zaid Al-Qairwani dan selainnya dari kaum muslimin.
            Seorang pengajar di Al-Jami’ah Al-Islamiyyah Madinah al-Munawwarah, Hammad bin Muhammad, dalam kitab ‘Abu Al-Hasan Al-Asy’ari wa Aqidatuhu’ halaman 4, menyatakan: Keutamaan Abu Hasan Al-Asy’ari dan budi pekertinya lebih banyak dari pada yang mungkin dapat ditulis. Boleh jadi karena keterbatasan atau karena berhentinya penulisan-penulisan tentang beliau setelah keluarnya dari Muktazilah. Ia melihat sesungguhnya Allah telah memanjangkan umurnya dengan kasih sayang taufik-Nya dan meneguhkan untuk menolong Al-haq (jalan yang benar).
            Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki juga menuturkan: di dalam kitabMafahim Yajib al-Tushahhah, hal 111: “Sesungguhnya mereka (pengikut Al-Asy’ari) adalah para Muhadditsin, Fuqoha, dan Mufassirin, serta para Imam terkemuka” .
KARYA-KARYA IMAM ASY’ARI
            Menurut sejarah, Imam Asy’ari telah menulis tidak kurang dari 300 kitab yang berisi berbagai macam disiplin ilmu yang bisa dibaca oleh banyak orang. Antara lain seperti: Imamah al-Siddiq, Al-Radd ‘ala al-Mujassimah, Maqalat Al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, Risalah fi al-Iman, Maqalat al-Mulhidin, Istihsan al-Khaudhi fi al-Kalam, Al-Luma’ fi Radd ‘ala Ahli al-Zaighi wa al-Bida’, Al-Radd ‘ala Ibn al-Rawandi, Khalq al-A’mal al-Asma’ wa al-Ahkam, dan lain-lain. Imam Asy’ari banyak menolak pendapat-pendapat yang menyimpang dari Aristoteles, Plato, golongan materialist, Antropomorphist, golongan Khawarij, Murji’ah, Jahamiyah, dan lain-lain.
            Imam Abu Bakar bin Ali bin Tsabit yang dikenal dengan Al-Khatib Al-Baghdadi (w.463 H), dalam kitabnya ‘Tarikh Baghdad’ menyatakan: “Abu Hasan Al-Asy’ari adalah seorang ahli Kalam yang memiliki banyak kitab dan karangan yang berisi bantahan terhadap faham atheis, di samping itu juga ada yang berisi bantahan terhadap Muktazilah, Jahamiyah, Khawarij, dan semua golongan bid’ah.
Namun  fokus kegiatan Al- Asyari adalah menyerang pikiran-pikiran sesat yang ditujukan oleh kaum Muktazilah, seperti Ali Al-Jubai, Abu Hudzail, dan sebagainya.
            Ada tiga kitab yang sangat terkenal dikalangan dunia Islam karya Imam Asy’ari, yakni :
  1. Al-Maqalatul Islamiyyin (pendapat-pendapat golongan Islam). Kitab ini adalah yang pertama kali ditulis oleh Al-Asy’ari. Berisi tiga bagian. Pertama, berisii pendapat macam-macam golongan umat Islam,kedua, tentang pendirian-pendirian ahli Hadits, dan ketiga berisi tentang bermacam-macam persoalan ilmu Kalam. 
  2. Al-Ibanah ‘an Ushul al-Diyanah (Keterangan tentang dasar-dasar Agama). Kitab ini menguraikan pokok-pokok kepercayaan yang dianut oleh faham Ahlussunnah dan kritikan tajam terhadap golongan Muktazilah, Haruruyah, dan Jahamiyah, yang selanjutnya akan penulis bahas isinya.
  3. Al-Luma’ fi Raddi ‘ala Ahli Al-Zaighi wa Al-Bida’. Kitab ini berisi kritik terhadap metode berpikir Muktazilah yang cenderung liberal dalam menggunakan akal dan rasio. Dan berisi bantahan-bantahan yang teratur dan sistematis dengan sorotan tajam terhadap orang-orang ahli bid’ah. Sehingga dari pemikiran Al-Asy’ari dari kitab ini, ia terkenal sebagai tokoh penengah antara nash dengan akal.



TELA’AH KITAB AL-IBANAH
      Kitab Al-Ibanah ‘an Ushul Al-Diyanah artinya ‘Keterangan Dasar-dasar Agama’. Dan sebagai pengenalan awal untuk memahami pemikiran teologinya Al-Asy’ari, melalui kita Al-Ibanah untuk sementara dianggap cukup. Tetapi untuk lebih mendalami dan sekaligus mengetahui karakteristik pemikirannya, maka tiga macam kitab di atas harus dipelajari.
Kajian ini merupakan upaya memahami pemikiran teologi Islam tulisan Imam Al-Asy’ari  tokohAhlus Sunnah Wal Jama’ah. Dan kajian ini termasuk dalam masalah ilmu Ushuluddin, sifatnya adalah normatif.
            Dalam kitab ini, Imam Al-Asy’ari membahas masalah-masalah yang cukup rumit dan mendetail. Kalau diperhatikan, sebenarnya pemikirannya adalah mencari titik temu antara berbagai pemikiran yang berbeda. Sebagai contoh misalnya, soal dosa besar orang tidak bertaubat sampai meninggalnya, maka menurut golongan Khawarij dianggap kafir. Sedangkan menurut Mu’tazilah, orang yang melakukan dosa besar bukanlah seorang mukmin dan juga tidak kafir. Sehingga pelakunya kelak di akhirat berada pada satu posisi diantara dua posisi ( satu tempat di antara surga dan neraka), yang terkenal dengan istilah Manzilatun baina al-Manzilatain. Sedangkan menurut Imam Asy’ari, orang tersebut tetap mukmin, dan masih ada harapan masuk surga. 
                        Dalam membahas suatu masalah, Imam Al Asy’ari mengemukakan persoalan dengan meng-andai, dengan kata-kata:   ان قال قائل- ان سأل سائلDengandemikian corak pemikirannya disusun secara dialogis. Menyebutkan masalahnya, lalu dijawab dengan argumentasi yang rasional kemudian menyebutkan ayat atau hadits yang terkait.
            Dalam hal yang dianggap sangat penting, ia kemukakan beberapa alasan. Misalnya rukyatullah, dengan panjang lebar dijelaskan sampai 8 halaman. Bahwa rukyatullah di dunia ini memang mustahil, tetapi di akhirat kelak adalah sangat mungkin bagi orang mukmin sebagai puncak surgawinya.
            Pola pemikirannya bercorak kompromis, kajian teologinya normatif, filosofis dan  cukup rumit. Kadang-kadang ia berhasil mengeliminir suatu persoalan, tetapi kadang pula agak larut condong ke dalam masalah satu pendapat. Misalnya dalam masalah qadar dan ikhtiyar manusia, pada akhirnya ia cenderung ke jabariyah. Sementara  Imam Maturidi yang sama-sama sebagai tokoh ahlusunnah waljamaah dalam masalah tersebut lebih condong ke Muktazilah. 
Adapun  yang akan kami kemukakan di dalam kitab Al-Ibanah ini adalah masalah: orang orang sesat dan ahli bid’ah, Ahli Al-Haq dan Ahli Sunah, Rukyatullah, Kalamullah, Syafaat, telaga al-Kautsar, adzab kubur, dan kepemimpinan Abu Bakar al-Shiddiq ra.

1. Orang-orang sesat dan ahli bid’ah
Imam Asy’ari  menyatakan:

  أمّا بعدُ : فإن كثيرا من الزائغين عن الحق من المعتزلة  وأهل القدر مالتْ بهم أهوائهم  الى تقليد ر ؤَسآئهم ومن مضى         من اسلافهم فتأوّلوا القرآن على أرآ ئهم تأ ويلاً .    لم ينزل الله  به سلطانا , ولاأوضح به برهانا , ولا نقلوه عن رسول ربّ العالمين ولاعن السّلف المتقدمين

  “ Amma Ba’du, Sesungguhnya banyak golongan-golongan yang telah menyeleweng dari kebenaran yakni dari kalangan Muktazilah dan Qadariyah yang mereka cenderung untuk menuruti hawa nafsu mereka dengan bertaqlid pada pimpinan-pimpinan mereka dang para pendahulu mereka, sehingga mereka mentakwilkan Al-Qur’an menurut pendapat mereka sendiri, dengan suatui takwilan di mana Allah tidak menurunkan padanya suatu kekuasaan, dan tidak menjelaskan padanya suatu bukti, dan mereka tidak menukilkannya dari Rasul penguasa alam, begitu pula dari orang-orang salaf terdahulu.[7]
Al-Asy’ari menganggap orang-orang Muktazilah dan Qodariyah sebagai kelompok yang telah menyeleweng dari kebenaran. Seperti pandangan mereka yang tidak mengakui adanya rukyatullahsyafaatRasulullah SAW, adzab kubur, memakhlukkan Al-Qur’an dan sebagainya.
Kemudian Al-Asy’ari juga menyorot kalangan orang-orang Jahamiyah, Murji’ah, Haruriyah sebagai ahli bid’ah, karena mereka telah menyalahi Kitab Allah dan Sunah Rasul dan apa-apa yang dibawa oleh para sahabaat Rasululaah SAW. [8]

2. Orang –orang Ahli Al-Haq dan Ahli Al-Sunnah
Imam Asy’ari meng-andaikan ada seorang yang bertanya kepadanya demikian: “Engkau telah menolak pendapat golongan Muktazilah, Qodariyah, jahamiyah, Haruriyah, Rafidhah, dan Murji’ah. Oleh karena jelaskan kepada kami tentang pandangan-pandangan yang engkau anggap tetap pada hidayah Allah SWT”. Al-Asy’ari kemudian menjawab:

قولنا الذي نقول به , وديانتنا التي  ندين بها : التمسُّك بكتاب ربنا عز و جل  وبسنّة نبينا صلى الله عليه وسلم , وماروي عن الصّحابة والتابعين وأئمة الحديث , ونحن  بذلك معتصمون , وبما كان يقول به أبو عبد الله أحمد ابن حنبل ,نضّرالله وجهه ورفع درجته وأجزل مثوبته

“Pertama-tama yang kami jadikan pendirian dan katakan ialah berpegang teguh kepada Kitab Tuhan kami Azza wa Jalla, Sunnah Nabi SAW, apa-apa yang diriwayatkan para sahabat, tabi’in, dan para ulama Hadits. Demikian juga kami berpegang teguh kepada pendapat Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, semoga Allah memberi sinar wajahnya, meninggikan derajadnya dan melipatgandakan pahalanya”. [9]
            Dari ungkapan ini Imam Asy’ari tampak sekali berbeda pandangan dan sekaligus mengkritik golongan orang-orang yang ditentangnya, terutama dari kaum Muktazilah dan Qodariyah yang lebih menonjolkan akalnya dari pada wahyu.
            Dan Al-Asy’ari memandang Golongan Qodariyah seperti pemeluk agama majusi, zoroaster, di Persia. Kebaikan dan keburukan masing-masing memiliki penciptanya. Manusia memiliki kemampuan baik yangmadharat maupun manfaat terhadap dirinya, mempunyai kemampuan berbuat di luar kekuasaan Allah SWT, dan yang tidak pernah disebutkan oleh-Nya.
            Demikian juga golongan Jahamiyah, Murji’ah dan ahli-ahli bid’ah yang lain, sama dengan perilaku orang Muktazilah dan Qodariyah.

3. Rukyatullah
            Sebagaimana diketahui bahwa salah satu perbedaan pandangan Al-Asy’ari dengan Muktazilah adalah masalah Rukyatullah. Di samping pula ia juga tidak sependapat dengan kelompok ortodoks ekstrim, terutama golongan Dzahiriyah, yang menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di akhirat dan mempercayai bahwa Allah bersemayam di Arsy. Bagi Al-Asy’ari Allah dapat dilihat di akhirat, tetapi tidak dapat digambarkan. Kemungkinan  rukyat tersebut dapat terjadi manakala Allah sendiri yang menyebabkan dapat dilihat atau bilamana Ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihat-Nya.
Al-Asyari menjelaskan bahwa  rukyatullah itu berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits, serta menjelaskan takwil yang salah terhadap yang dilakukan oleh kelompok Muktazilah. Padahal orang-orang mukmin telah memperoleh kenikmatan rukyatullah ini. Sedangkan orang-orang kafir sebaliknya, karena telah tehijab oleh kekufurannya.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Muthaffifin ayat 15:

  كَلاَّ إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ  ( المطفّفين : ١٥ )

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari kiamat itu benar-benar tertutup dari rahmat melihat Tuhan mereka”.
Kemudian Al-Asy’ari melanjutkan perkataanya:

وأهل الجنة لهم في الجنة ما لاعينٌ رأتْ ولا أُذن سمعتْ من العيش السّليم والنّعيم المقيم 
“Dan ahli surga itu berada dalam surga dengan segala kenikmatannya, sesuatu yang mata ini tidak pernah melihatnya, dan telinga tidak pernah mendengarnya, mereka hidup sejahtera yang menyenangkan dan memperoleh kenikmatan yang abadi”.[10]
Adapun dasar yang dipakai Al-Asy’ari dalam masalah rukyatullah adalah firman Allah dalam surat Al-Qiyamah ayat 22-23 yang berbunyi:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ  (22)إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ(23)  ( القيامة  : ٢٢-٢۳)
“Pada hari akhir itu wajah mereka orang-orang mukmin berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat.”[11]
            Ayat ini oleh Al-Asy’ari diartikan ‘melihat’ dengan mata kepala. Kata nadzirah tidak bermakna i’tibar(memperhatikan), atau intidzar (menunggu), sebagaimana pendapat Muktazilah. Sebab kata nadzirahtersebut jika dituturkan dengan kata wajh, akan mengandung makna ‘melihat’ dengan kedua mata yang terdapat pada wajah.
            Juga keterangan yang menyatakan bahwa Nabi Musa as. pernah memohon kepada Allah SWT agar dapat melihat-Nya di dunia ini. Kemudian Allah memperlihatkan kebesaran-Nya pada sebuah gunung, lalu gunung itu menjadi hancur. Kemudian Nabi Musa pun menyadari, bahwa melihat Allah SWT di dunia merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Dari keterangan ini, ditafsiri oleh Imam Asy’ari sebagai sesuatu yang mustahil mengenai permohonan Nabi Musa tersebut. Karena permohonan Nabi Musa adalah keinginan untuk bisa melihat Allah di dunia. Sedangakan hal yang mungkin bisa dilakukannya adalah melihat Allah di akhirat kelak.

4. Kalamullah (Al-Qur’an)
            Imam Asy’ari juga membantah pendapat Muktazilah yang menyatakan bahwa kalamullah (Al-Qur’an) adalah makhluk, yang berarti hadits (baru). Ia menyatakan:

إن سأل سائل عن الدّليل على ان القرآن كلام الله غير مخلوق , قيل له الداليل على ذلك قوله تعالى  ” ومن آ ياته أن تقومَ السّماءُ والأرضُ بأمْرِه ” وأمرُالله هو كلامه وقوله .فلمّاأمرهما بالقيام فقامتا لايهويان  كان قيامهمابأمره. وقال عزّ وجلّ ” الا له الخلق والأمر “

Jika seseorang bertanya tentang alasan bahwa al-Qur’an itu kalam Allah dan bukan makhluk, maka jawabnya adalah firman Allah sendiri: ”Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah tegaknya langit dan bumi dengan perintah-Nya”. (Al-Rum:25). Dan yang dimaksud dengan perintah-Nya dalam ayat tersebut adalah Kalam Allah . Seandainya Allah memerintahkan keduanya (langit dan bumi) itu tegak, maka tegaklah keduanya dan tidak akan runtuh, karena itu jelaslah, bahwa tegaknya langit dan bumi itu dengan perintah-Nya jua. Dan  firman Allah: ”Ingatlah, hanya Allah hak Mencipta dan Memerintah (Al-A’raf:54)”.[12]
            Hal ini jelas, bahwa menurut Al-Asy’ari Kalam Allah itu qadim, tidak berpemulaan ada-Nya. Ia diperdengarkan kepada Malaikat Jibril as. Dan Malaikat Jibril membawakan kepada Nabi Muhammad SAW, kemudian oleh Nabi SAW disampaikan kepada para sahabat dan ditulis pada kulit-kulit binatang, pelepah kurma, tulang, batu dan sebagainya.
            Kemudian kalau yang dikatakan makhluk (hadits) itu adalah huruf dan suara yang tertulis diatas kertas, memang demikian. Akan tetapi Kalam Allah yang berdiri pada dzat-Nya yang qadim, tentu juga qadimpula.

5. Syafa’at
            Bagi Al-Asy’ari, sebenarnya syafaat dari Nabi Muhammad SAW itu tidak hanya diperuntukkan orang-orang mukmin saja yang nanti akan digembirakan dan dijanjikan surga. Namun juga berlaku bagi orang-orang yang melakukan dosa. Al-Asy’ari mengambil hadits Nabi SAW yang berbunyi:

وقد رُوي أنّ شفاعة النبيّ صلىّ الله عليه وسلم  لأهل الكبائر ,
  ورُوي  عن النبيّ صلىّ الله عليه وسلم  انّ المذنبين يخرجون من النار

“Diriwayatkan bahwa sesungguhnya syafaat Nabi SAW diperuntukkan bagi orang-orang yang melakukan dosa besar. Dan menurut riwayat yang lain bahwa orang-orang yang melakukan dosa itu pada suatu saat akan dikeluarkan dari neraka”.[13]

6. Telaga Kautsar
            Orang Muktazilah tidak mau mengakui adanya telaga Kautsar. Padahal masalah ini terdapat keterangan dari ayat, hadits, dan riwayat sahabat.  Yakni segaimana dinyatakan oleh Imam Asy’ari :

وروي أحمد بن حمد الله بن يونس قال : حدثنا ابن زائدة عن عبد الملك بن عمير عن جندب بن سفيان قال : سمعتُ رسول الله  صلىّ الله عليه وسلم  يقول :   أَناَ فَرَطْتُكُمْ عَلى  َ     الْحَوْضِ  في أخبار كثيرة .

Dan telah meriwayatkan Ahmad bin Hamdillah bin Yunus, ia berkata: telah menyampaikan kepada kami Ibnu Zaidah dari Abdul Mulk bin Umair dari Jundab bin Sufyan berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Aku telah dekat kepadamu pada telaga (al-kautsar).[14]


7. Adzab Kubur
            Berbeda dengan golongan Muktazilah yang tidak mengakui adanya adzab kubur, Imam Asy’ari menyebutkan masalah adzab kubur sering dinyatakan dalam Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi SAW. Seperti dalam Hadits:
عن أبي هريرة قال : قال رسولُ الله  صلىّ الله عليه وسلم  : نعوذ بالله من عذاب القبر .
“Dari sahabat Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW  bersabda:  “Kami berlindung kepada Allah dari siksaan kubur”.
            Juga di dalam firman Allah SWT:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ (المؤمن  :  ٤٦  )

“Neraka itu diperlihatkan kepada mereka pada pagi hari, pada waktu terjadinya kiamat. Wahai Malikat, masukkanlah Fir’aun dan kroni-kroninya itu ke dalam adzab yang sangat pedih”.[15]

8. Kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq
            Dikalangan sebagian besar golongan Syi’ah telah beranggapan bahwa khalifah (pengganti) Rasul SAW. sesudahnya adalah sayidina Ali bin Abi Thalib ra., berdasarkan wasiat beliau. Maka khalifah-khalifah sebelumnya, yaitu Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan adalah telah merampas atau ghasab jabatan itu. Namun golongan Zaidiyah dan Ja’fariyah lain pendapatnya. Bahwa Rasulullah SAW. memang menyebut sifat-sifat khalifah, tetapi tidak menyebutkan namanya.
            Adapun sahnya kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq berdasarkan keterangan Al-Asy’ari, yakni:
الإجماع على  إمامة أبى بكر الصديق رضي الله عنه ومما يدل على إمامة الصديق رضي الله عنه ان المسلمين جميعا بايعوه وانقدوا لإمامته وقالوا له يا خليفة رسول الله رأينا عليا والعباس رضي الله عنهما با يعاه رضي الله عنه و أقر له با لإمامة واذا كانت الرافضة يقولون إن عليا هو المنصوص علي إمامته  والراوندية تقول العباس هو المنصوص علي إمامته  ولم يكن فى الناس فى الإمامة إلا ثلاثة أقوال من قال منهم أن النبى  صلعم نص على إمامة الصديق وهو الإمام بعد الرسول. وقول من قال نص على إمامة علي. وقوله من قال الإمام بعده العباس . وقول من قال هو أبو بكر الصديق هو بإجماع المسلمين والشهادة له بذالك, ثم رأينا عليا والعباس قد بايعاه واجمعا على إمامته فوجب ان يكون إماما بعد النبي صلعم بإجماع المسلمين ولا يجوز لقائل ان يقول كان باطن عليّ والعباس خلافا ظاهرهما

“Diantara bukti kesepakatan atas pengangkatan Abu Bakar al–Siddiq ra. menjadi pemimpin adalah ketika seluruh kaum Muslimin, tanpa lagi kecuali, membai’atnya dan mengangkatnya sebagai pemimpin. Merekapun memanggilnya, “Wahai Khalifah Rasulullah”, Bahkan kita menyaksikan sahabat Ali dan Abbas RA. membai’atnya dan menetapkannya pula sebagai pemimpin. Kaum Rafidlah mengatakan bahwa Ali adalah seorang pemimpin yang dikukuhkan, begitupula kaum Rawanidiyyah mengatakan bahwa Abbas adalah seorang pemimpin yang telah dikukuhkan pula, sehingga orang pun tidak mengakui kepemimpinan ummat melainkan dari tiga pendapat ini : pertama, yang mengatakan bahwa Nabi SAW. telah menunjuk Abu Bakar As-Siddiq  RA. menjadi pemimpin, sehingga beliau itulah pemimpin sepeninggal Rasul. Kedua, yang mengatakan bahwa Nabi SAW telah menunjuk Ali sebagai pemimpin. Ketiga, yang mengatakan bahwa pemimpin sepeninggal Nabi SAW adalah Abbas. Dan orang yang mengatakan bahwa Abu Bakar As-Siddiq telah diangkat berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin dengan kesaksian mereka terhadapnya, bahkan kitapun menyaksikan Ali dan Abbas membai’atnya dengan kesepakatan atas kepemimpinannya. Dengan demikian pengangkatan beliau menjadi pemimpin sepeninggal Rasulullah SAW itu benar-benar atas dasar kesepakatan kaum Muslimin, sehingga tidak mungkin lagi seseorang mengatakan bahwa sahabat Ali dan Ibn Abbas itu pada dasarnya hanya sepakat lahirnya semata, sementara batinnya tidak.[16]
            Demikian sekelumit isi dari kitab Al-Ibanah ‘an Ushul Al-Diyanah, karya Imam Asy’ari. Sebenarnya masih banyak poin-poin pemikiran beliau di dalam kitab tersebut yang belum bisa penulis jabarkan.
            Semoga tela’ah kitab  Al-Ibanah ‘an Ushul Al-diyanah yang masih jauh dari kesempurnaan ini dapat memberi manfaat bagi pembaca. Dan harapan penulis, semoga Allah SWT senantiasa memaafkan atas kesalahan pemahaman penulis dalam menela’ah kitab berharga karya Imam Asy’ari, sang pendekarAhlusunnah wal Jamaah ini. (h.fidz)
        


                     



[1] Muhammad Imarah, Tayyarat al-Fikr al-Islami, dar al-Syuruq,Beirut, 1911,hal 163
[2]  Ada yang menyatakan ia wafat tahun 330 H. Lihat, Abu Fadlol al-Senory, al- Kawakib al-Lama’ah fi Tahqiqi al-Musamma bi Ahli al-Sunnah wa al-Jama’ah, Alhidayah, Surabaya: tt, hal. 39. Baca juga  Ibn ‘Asakir, Tabyin Kadzib al-Muftara fi ma Yunsabu Ila al-Imam Abi Hasan al-Asy’ari, Dar al-‘Ilm, Beirut, tt, hal. 147
[3] Ahmad Amin, Dzahar Al-Islam, Juz:4, Hal. 67
[4] [4] Hammad bin Muhammad Al-Anshary, Abu Al-Hasan Al-Asy’ari wa-akidatuhu, 1975. hal 3
[5] Hammad bin Muhammad Al-Anshary, Ibid 1975. hal 4
[6]  Hammad bin Muhammad Al-Anshary, Ibid, hal 4
[7] Al-Asy’ari, Ibid, hal 6-7
[8] Al-Asy’ari, Ibid, hal 8
[9] Al-Asy’ari, Ibid, hal 8
[10] Al-Asy’ari, Ibid, hal 12
[11] Al-Asy’ari, Ibid, hal 12
[12] Al-Asy’ari, Ibid, hal 19
[13] Al-Asy’ari, Ibid, hal 66
[14] Al-Asy’ari, Ibid, hal 66
[15] Al-Asy’ari, Ibid, hal 67
[16] Al-Asy’ari, Ibid, hal 68-69

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar